Kemarau Panjang, Pemdes Air Senggeris Gelar Shalat Istisqa

Banyuasin173 Dilihat

Banyuasin – Suasana religius
dan penuh kekhusyukan menyelimuti Desa Air Senggeris, Kecamatan Suak Tapeh, Kabupaten Banyuasin, Senin (31/8) pagi. Dimana terkait musim kemarau saat ini, Pemerintah Desa Air Senggeris melaksanakan Sholat Istisqa sebagai bentuk ikhtiar dan doa bersama untuk memohon turunnya hujan serta rahmat dari Allah SWT.

Kegiatan Sholat Istisqa tersebut dilaksanakan sekira pukul 07.30 WIB di lapangan bola kaki Desa Air Senggeris. Ratusan warga Desa Air Senggeris hadir dan mengikuti rangkaian ibadah dengan penuh kesadaran, ketundukan, serta harapan agar Allah SWT segera memberikan pertolongan berupa turunnya hujan.

Pelaksanaan Sholat Istisqa menjadi momentum penting bagi masyarakat untuk kembali mendekatkan diri kepada Allah SWT. Di tengah kondisi cuaca yang kering dan hujan yang diharapkan masyarakat, Pemerintah Desa Air Senggeris memilih jalan spiritual dengan memperbanyak doa, istighfar, serta memohon ampun atas segala kekhilafan.

Sholat Istisqa sendiri merupakan ibadah yang dianjurkan ketika terjadi kekeringan atau ketika hujan tidak kunjung turun. Melalui pelaksanaan sholat ini, umat Islam memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan yang membawa manfaat dan keberkahan bagi kehidupan manusia, hewan, serta tumbuh-tumbuhan.

Kepala Desa Air Senggeris Ardiansyah turut hadir dalam pelaksanaan Sholat Istisqa bersama masyarakat. Kehadiran kepala desa menjadi bentuk dukungan terhadap kegiatan keagamaan sekaligus penguatan semangat kebersamaan masyarakat dalam menghadapi kondisi lingkungan yang sedang membutuhkan turunnya hujan.

Dalam pelaksanaan tersebut, yang bertindak sebagai imam adalah H Arsandi dan bertindak selaku khatib Irhandi SPd Gr. Dengan penuh ketenangan dan kekhusyukan, jamaah mengikuti setiap rangkaian Sholat Istisqa hingga selesai.

Sejak dimulainya kegiatan, masyarakat tampak khidmat dan tertib mengikuti pelaksanaan ibadah. Kaum laki-laki, orang tua, serta masyarakat lainnya berkumpul di lapangan bola kaki untuk bersama-sama menundukkan kepala dan memanjatkan doa kepada Sang Pencipta.

Sholat Istisqa tidak hanya menjadi bentuk permohonan agar hujan segera turun, tetapi juga menjadi pengingat bagi umat manusia bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia berada atas kehendak dan kekuasaan Allah SWT.

Dalam suasana tersebut, masyarakat diajak untuk memperbanyak istighfar dan memohon ampun kepada Allah SWT. Kekeringan yang terjadi menjadi momentum untuk melakukan introspeksi diri serta meningkatkan ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi masyarakat pedesaan, turunnya hujan memiliki arti yang sangat penting. Air menjadi kebutuhan utama dalam kehidupan, baik untuk kebutuhan rumah tangga, pertanian, perkebunan, peternakan, maupun menjaga keberlangsungan lingkungan.

Karena itu, harapan masyarakat terhadap turunnya hujan bukan sekadar persoalan cuaca, melainkan menyangkut keberlangsungan aktivitas dan kehidupan sehari-hari. Doa yang dipanjatkan bersama diharapkan menjadi ikhtiar batin sekaligus bentuk kepasrahan kepada Allah SWT.

Pelaksanaan Sholat Istisqa juga mengajarkan pentingnya menjaga hubungan antara manusia dengan Allah SWT serta hubungan antarsesama manusia. Ketika menghadapi sebuah persoalan, masyarakat tidak hanya mengandalkan kemampuan duniawi, tetapi juga memperkuat ikhtiar melalui doa dan ibadah.

Kepala Desa Air Senggeris Ardiansyah
menjadi bagian dari momentum kebersamaan tersebut. Dukungan dari pemerintah desa diharapkan dapat terus mendorong masyarakat untuk meningkatkan kegiatan keagamaan dan memperkuat nilai-nilai sosial di tengah kehidupan bermasyarakat.

Kepala Desa Air Senggeris Ardiansyah menuturkan, shalat Istisqa merupakan salah satu bentuk ikhtiar dan juga termasuk dalam sunnah muakkadah. Terlebih lagi, kondisi cuaca yang panas dan kekeringan telah berlangsung selama berbulan-bulan, sehingga merupakan tindakan yang sangat dianjurkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

“Ini adalah sifat ikhtiar dan sunnah muakkadah, terutama setelah berbulan-bulan tanpa hujan. Ini adalah bentuk ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, bukan berarti kita tidak bersyukur, tetapi memang dianjurkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala,” kata Ardiansyah.

Shalat Istisqa yang dilaksanakan ini merupakan langkah awal dalam upaya memohon turunnya hujan. Ardiansyah juga mengingatkan bahwa shalat Istisqa adalah ibadah sunnah yang harus dilakukan oleh masyarakat sebagai bentuk ikhtiar dalam menghadapi situasi kemarau yang panjang.

“Salat Istisqa adalah salah satu cara tradisional yang dilakukan dalam budaya Islam untuk memohon hujan dalam situasi kemarau yang panjang dan kekeringan yang mengancam pertanian dan sumber daya air. Semoga doa yang diucapkan dalam shalat ini diijabah oleh Allah SWT dan memberikan hujan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat,” tutupnya. (Adm)