Diduga Oknum Polisi Polda Sumsel (JL) Tertangkap Kamera Wartawan Saat Lakukan Bisnis Minyak Ilegal di Muba

Muba132 Dilihat

Muba – Angkutan minyak ilegal di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan, kembali menjadi sorotan tajam publik. seorang peria berinisial JL alias Jali diduga kuat sebagai salah satu pemilik jaringan bisnis minyak ilegal, sekaligus pemegang koordinasi armada angkutan minyak ilegal.

Puluhan media lokal dan nasional sebelumnya telah menyoroti aktivitas ilegal tersebut. Namun, hingga kini tidak ada tindakan tegas dari jajaran aparat penegak hukum, baik di tingkat Polsek, Polres dan Polda Sumsel. aroma pembiaran terhadap mafia minyak oleh aparat makin terasa kuat sampai saat ini.

Temuan investigasi tim media pada Selasa (15/7/2025) di Desa Tegal Mulyo, Kecamatan Keluang, memperlihatkan fakta mencengangkan. Sebuah truck tronton Nissan warna merah bernomor polisi E 9528 AD di dapati sedang mengangkut minyak ilegal jenis Solar Cong, hasil dari penyulingan minyak ilegal di kawasan kecamatan Keluang kabupaten Muba.Tono yang merupakan sopir secara terbuka mengaku bahwa minyak tersebut akan dibawa menuju Palembang.

“Minyak yang saya angkut ini jenis Solar Cong dari masakan minyak di Keluang dan akan dibawa ke Palembang,” ungkap Tono.

Lebih lanjut, saat ditanya soal kepemilikan minyak dan kendaraan, Tono menyebut semuanya milik Jali. Ia bahkan menegaskan, koordinasi seluruh aktivitas pengangkutan ilegal tersebut juga dipegang langsung oleh Jali.

“Minyak, mobil dan koordinasinya milik Jali,” ucapnya tanpa ragu.

Identitas Jali makin terang saat Tono menyebut bahwa sosok itu merupakan anggota Polisi yang bertugas di Polda Sumsel. Saat tim media menanyakan lebih jauh, Tono malah balik mengancam.

“Jali itu Polisi di Polda. Ada apa kamu nanya-nanya Jali? Bisa-bisa banyak Polisi yang datang ke tempat ini,” cetusnya.

Saat di Tim media mengkonfirmasi kepada Jali lewat sambungan telepon WhatsApp. Saat dikonfirmasi, Jali tanpa sungkan mengakui bahwa minyak, mobil, dan koordinasi jalur ilegal tersebut memang miliknya.

“Itu minyak dan mobil saya, koordinasi saya sendiri, Pak,” ujarnya.

Namun ketika ditanya apakah dirinya benar anggota polisi, Jali menanggapi sinis dan seolah menantang. Ia juga menyebut bahwa dirinya memiliki banyak kenalan media di Muba, sambil menyebut sejumlah nama wartawan.

“Saya banyak kenal media di sana. Kalau soal itu (aparat), ya kalau gitu kenapa emangnya?” kata Jali.

Saat ditanya apakah namanya boleh dicantumkan dalam berita, Jali malah menyilakan dengan enteng.
“Gak apa Pak, sebut aja Jali dalam pemberitaan”.

Pernyataan dan sikap Jali ini menjadi potret nyata betapa angkuhnya mafia minyak ilegal yang merasa kebal hukum dan tak tersentuh oleh institusi penegak hukum, meski aktivitas yang dilakukan jelas-jelas melanggar hukum di negara ini.

Kondisi ini memicu kekecewaan dan kemarahan publik, terutama masyarakat Musi Banyuasin. mereka menyayangkan sikap diam dan tidak berdayanya aparat dari level Polsek hingga Polda, yang seolah tak berani menyentuh sosok Jali.

Selain menimbulkan kerugian negara akibat hilangnya potensi pendapatan dari sektor pajak dan royalti migas, praktik ilegal ini juga berdampak pada kerusakan lingkungan dan mencoreng nama baik institusi penegak hukum, khususnya Kepolisian Republik Indonesia.

Publik mendesak agar Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, dan kementerian terkait segera tindak tegas. penindakan hukum harus dilakukan secara tegas, transparan, dan menyeluruh terhadap jaringan mafia minyak ilegal, termasuk oknum-oknum aparat yang terlibat.

Jika negara terus membiarkan hal ini, maka jangan salahkan rakyat jika kepercayaan terhadap hukum dan keadilan runtuh di hadapan mafia yang bersembunyi di balik seragam.(Tim)